Healthy

Buka Puasa dengan Nutrisi Seimbang

May 13, 2020

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Ketika menjelang waktu berbuka puasa, makanan tinggi gula, sirup, dan cemilan manis menjadi favorit banyak orang. Padahal ketika mengkonsumsi makanan tinggi gula yang hanya mengenyangkan saja, cenderung membuat tubuh defisiensi nutrisi, akhirnya membuat masalah pencernaan, dan meningkatkan risiko penyakit inflamasi kronik seperti diabetes.


Awali berbuka puasa dengan konsumsi jus sayur yang memiliki kandungan serat, fitonutrient, mineral, enzim, dan vitamin tinggi yang dapat mengganti nutrisi kamu lebih cepat dan mempersiapkan sistem pencernaan sebelum kamu mengkonsumsi makanan utama.

Untuk makanan utama, kamu bisa mengkombinasikan semua sumber nutrisi seimbangYuk, lengkapi nutrisi kamu setiap hari mulai dengan konsumsi:

  • Karbohidrat Kompleks

Karbohidrat diproses oleh tubuh menjadi glukosa untuk dijadikan sumber energi sel tubuh. Konsumsi Karbohidrat Kompleks dengan indeks glikemik yang lebih rendah, sehingga kamu kenyang lebih lama dan tidak memperberat fungsi pancreas untuk memproduksi Insulin. contohnya : Quinoa, Ubi Manis dan Beras Merah

  • Berikan sumber makanan yang kaya vitamin & mineral seperti sayuran, buah-buahan tinggi fitonutrien.

Vitamin dan Mineral merupakan mikro nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menjaga keseluruhan fungsi metabolisme, menjaga fungsi sel, membuat hormon esensial untuk tubuh.

  • Protein lengkap

Tubuh kita terdiri dari sekitar 100.000 jenis protein. Protein yang diambil dari makanan, diubah menjadi asam amino. Protein berkualitas baik adalah protein yang berisi yang asam amino esensial seimbang yang tidak disintesis di dalam tubuh. Beberapa sumber protein diantaranya adalah susu, daging, ikan, telur, jagung, kentang, tumbuhan yang berbiji. Kami merekomendasi untuk konsumsi protein berkualitas tanpa proses sintetik suntikan hormone, pemberian antibiotic, dan proses yang minimal seperti konsumsi sumber protein dari peternakan Organik.

  • Minyak sehat (Healthy fat)

Lemak merupakan sumber energi yang paling besar dan membantu penyerapan beberapa vitamin (vitamin A,D, E, dan K) dalam tubuh agar tubuh tetap sehat. Tubuh juga membutuhkan lemak untuk memproduksi berbagai hormon dalam tubuh misalnya seperti prostaglandin yang berperan dalam mengatur berbagai fungsi tubuh yang penting seperti tekanan darah, sistem saraf, denyut jantung, elastisitas pembuluh darah, dan pembekuan darah. Konsumsi lemak sehat yang berasal dari alpukat, kacang-kacangan minyak zaitun, minyak kelapa

  • Asupan air bersih minimal 2-3 liter sehari

Air membantu tubuh agar tetap terhidrasi, dan memiliki fungsi besar untuk setiap organ,terutama untuk sistem pencernaan kamu. Air membantu melarutkan toksin/racun sehingga bisa dikeluarkan melalui BAB, melarutkan mineral yang terkalsifikasi sehingga tidak menjadi sumbatan/batu di dalam tubuh, dan membantu sistem penghantaran nutrisi tubuh.

  • Makanan Tinggi Probiotik

Probiotik adalah mikrobiota baik yang hidup di dalam usus kamu, contohnya Lactobacillus sp., dan Bifidobacterium sp.,. Mereka memiliki fungsi untuk meningkatkan proses pencernaan, absorbsi vitamin dan mineral, serta membantu pertumbuhan dari bakteri jahat. Kamu bisa mengkonsumsi makanan tinggi probiotik seperti kimchi, yoghurt, kombucha, sup miso, ataupun sauerkraut.


Berikan nutrient yang tepat untuk tubuh kamu selama bulan puasa ini, agar kesehatan pencernaan kamu lebih terjaga, tubuh kamu dapat meningkatkan proses detoksifikasi, hormonal dalam tubuh kamu semakin seimbang, dan imunitas kamu semakin kuat setiap harinya.

Sumber :

  1. Longo, V. D., & Mattson, M. P. (2014, February 4). Fasting: molecular mechanisms and clinical applications. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3946160/
  2. Patterson, R. E., Laughlin, G. A.. (2015, August). Intermittent Fasting and Human Metabolic Health. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4516560/
  3. Rouhani, M. H., & Azadbakht, L. (2014, October). Is Ramadan fasting related to health outcomes? A review on the related evidence. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4274578
3 likes

Author

dr. Arihta Johana Wulandari Ginting

Your email address will not be published.