Healthy / Lifestyle / Organic Life

Good Carbs, Bad Carbs – Bagaimana membuat Pilihan yang terbaik

April 16, 2020

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

Makanan berkarbohidrat sangatlah kontroversi akhir-akhir ini. Beberapa mengatakan karbohidrat dapat menyebabkan obesitas dan diabetes tipe 2, sementara  banyak guideline menyarankan untuk konsumsi 50% karbohidrat setiap hari.

Sebenarnya karbohidrat telah dikonsumsi bertahun-tahun tanpa menyebabkan masalah kesehatan, namun epidemik penyakit obesitas, diabetes, jantung dan kanker meningkat di akhir 1980-an ketika industri makanan mulai banyak memproduksi makanan kemasan dan makanan instan yang dikonsumsi oleh semua kelompok usia masyarakat di Indonesia.

Bad Carbs (Karbohidrat buruk) adalah makanan yang mengalami banyak proses dan purifikasi sehingga rendah nutrisi, kalori tinggi, memiliki GI (glikemiks indek) yang tinggi, sehingga mengakibatkan kenaikan gula dalam darah dan hormon insulin menjadi tidak stabil dan mengakibatkan craving atau rasa lapar yang berlebihan. Bila kondisi ini berlanjut dalam jangka panjang, tubuh akan menimbun gula terlalu banyak dan mengakibatkan inflamasi sehingga mudah terkena penyakit-penyakit kronik.

Contoh bad carbs adalah soda, kue-kue manis, permen, coklat, kopi manis, chips (snack kemasan), sirup, saos, biskuit, bakmi, roti putih, kecap, sereal, dan makanan instan. Makanan ini selalu mengandung gula, pengawet, fortifikasi mineral sintetik, pengawet dan penambah rasa dalam jumlah yang besar.

Good Carbs (Karbohidrat terbaik) adalah karbohidrat yang memiliki glikemik indeks yang rendah, sehingga gula dalam darah dan hormon insulin lebih stabil, memiliki kandungan rendah kalori, tinggi nutrisi serat, vitamin, mineral, dan fitonutrien. Sebaiknya tetap dikonsumsi dalam bentuk alami, organik, sehingga meningkatkan banyak fungsi kesehatan dan energi tubuh.

Contohnya ubi manis, labu, quinoa, oat, beras merah, beras coklat, konjak, roti gandum utuh, pasta gandum atau pasta dari kacang-kacangan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan sayuran.

Jadi ketika kamu sudah memilih sumber karbohidrat yang lebih baik dan alami yang bisa kamu konsumsi setiap hari, tubuh kamu bisa lebih ternutrisi, berenergi, pencernaan lebih sehat dan bisa bebas dari toksin ataupun zat kimia lainnya yang berbahaya untuk tubuh kamu.

Stay healthy dan terus #KuatinBadannya


Aller, Erik E J G, et al. “Starches, Sugars and Obesity.” Nutrients, MDPI, Mar. 2011, www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3257742/.

Houghton, Serena C, et al. “Carbohydrate and Fiber Intake and the Risk of Premenstrual Syndrome.” European Journal of Clinical Nutrition, U.S. National Library of Medicine, June 2018, www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5990431/.

Hruby, Adela, and Frank B Hu. “The Epidemiology of Obesity: A Big Picture.” PharmacoEconomics, U.S. National Library of Medicine, July 2015, www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4859313/.


Mohan, Viswanathan, et al. “Are Excess Carbohydrates the Main Link to Diabetes & Its Complications in Asians?” The Indian Journal of Medical Research, Medknow Publications & Media Pvt Ltd, Nov. 2018, www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/30666980.


Poti, Jennifer M, et al. “Ultra-Processed Food Intake and Obesity: What Really Matters for Health-Processing or Nutrient Content?” Current Obesity Reports, U.S. National Library of Medicine, Dec. 2017, www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5787353/.

USDA. “Dietary Guideline for American.” Dietary Guideline for American, 2015, health.gov/sites/default/files/2019-09/2015-2020_Dietary_Guidelines.pdf.

Weickert, Martin O, and Andreas F H Pfeiffer. “Impact of Dietary Fiber Consumption on Insulin Resistance and the Prevention of Type 2 Diabetes.” The Journal of Nutrition, U.S. National Library of Medicine, 1 Jan. 2018, www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29378044.

3 likes

Author

dr. Arihta Johana Wulandari Ginting

Your email address will not be published.